Boleh memandang ke atas sesekali.
Klo dah pegel liat ke bawah lagi.
Pemandangan di bawah yang mengangkat kita ke atas.
*
Beberapa hari lalu, aku melihat seorang pemulung duduk di bawah pohon. Di dekatnya sekarung botol-plastik bekas. Kelihatan sekali ia menikmati makannya. Menunduk, fokus dan melahap dengan suapan penuh. Tanda lapar menghinggap. Ia sendirian, tak tampak kawan. Agak jauh darinya barulah terdapat orang-orang dengan berbagai kesibukannya.
Rasa syukur terpancar dari tindakannya. Aku jadi haru. Pasrahnya, syukurnya...menghujam egoku. Ia tak perlu gengsi menikmati makannya di trotoar bukan di sebuah restoran. Ia tak perlu malu menghabiskan hajatnya dengan sebungkus nasi tanpa peralatan mewah.
Iya...untuk apa malu bila tak berbuat salah?
untuk apa gengsi kalau itu memang hidup jujurnya?
Untuk pemandangan di atas, kita bisa dapatkan banyak sudut pandang.
Dan aku, memandangnya dari syukurnya. Menikmati kesederhanaan tanpa mengeluh.
*
Apa aja yang ada di sekitar kita adalah ilmu. Terkadang menjadi salah satu alasan kita berbuat sesuatu.
Mari kita berkeliling dan dapatkan sesuatu, nikmat Allah Swt yang tak berhingga.
Nyatanya, menghitung kekurangan itu tidak ada habisnya.
Saat mengeluh dengan makanan yang tidak komplet, di luar sana atau bahkan belahan bumi lain bersyukur masih bisa makan. Bisa jadi karena tidak ada atau sedang sakit.
Mengeluh karena tidak jalan-jalan, ternyata masih ada yang sekedar berjalan aja susah.
Pokoknya bersyukur saja. Apa ya tega melihat orang susah, sementara kita selalu senang-senang. Pamer lagi.
Apa ya ketelen, makanan yang kita makan?
Catatannya adalah mau kita kaya atau kurang, letaknya pada rasa syukur. Berkelimpahan harta, tak lantas menjadikan kita puas. Orang yang bersyukur, nikmatnya akan bertambah-tambah.
"Hidup adalah soal melihat. Kemana arah pandangan kita, ke situlah kecenderungan perasaan kita."
Kamis, 22 September 2016
Rabu, 21 September 2016
Menghadapi suasana hati anak
Berbicara dengan anak itu memerlukan seni.
Namanya anak, kadangkala berubah-ubah sikapnya. Kadang nurut, kadang membantah.
Kadang usil, kadang kalem.
(Padahal orang tua juga kadang berubah-ubah he he).
Seni berbicara dengan anak saat jengkel atau marah adalah senyum, mendengarkan, berusaha mengerti kondisi yang sedang dirasakan. menghadap padanya, menatap matanya. Pasti deh mudah buatnya mendengarkan.
Tanyakan atau bicarakan tentang perasaannya baru masuk ke solusi.
Karena saat anak tegangan tinggi dan langsung kita sambut dengan nasihat ga mungkin masuk.
Ibaratnya selang yang sedang mengalirkan air, kita paksa masukin air, tak akan bisa.
Jadi ya didengarkan saja dulu segala uneg-unegnya.
Enak banget kalau anak mudah bercerita, bisa mengerti dia sedang marah atau kesal.
Yang repot itu kalau tidak tahu apa yang sedang dirasa seperti anak keduaku. Suka kesulitan mendeskripsikannya. Jadi kalau sedang kesal/marah jadi langsung tegangan tinggi. Tapi anak ini jenis pemikir dan pengamat.
Nah, menghadapinya butuh kesabaran ekstra. Betul-betul harus kita yang pandai memancing, dan lagi sulit sekali dipancing ke luar. Yang ada manyun, diam seribu bahasa, atau teriak-teriak marah.
Maka diamkan saja, anggap ngga da apa-apa. Bikin acara atau kegiatan supaya luluh sendiri.
Namanya anak, kadangkala berubah-ubah sikapnya. Kadang nurut, kadang membantah.
Kadang usil, kadang kalem.
(Padahal orang tua juga kadang berubah-ubah he he).
Seni berbicara dengan anak saat jengkel atau marah adalah senyum, mendengarkan, berusaha mengerti kondisi yang sedang dirasakan. menghadap padanya, menatap matanya. Pasti deh mudah buatnya mendengarkan.
Tanyakan atau bicarakan tentang perasaannya baru masuk ke solusi.
Karena saat anak tegangan tinggi dan langsung kita sambut dengan nasihat ga mungkin masuk.
Ibaratnya selang yang sedang mengalirkan air, kita paksa masukin air, tak akan bisa.
Jadi ya didengarkan saja dulu segala uneg-unegnya.
Enak banget kalau anak mudah bercerita, bisa mengerti dia sedang marah atau kesal.
Yang repot itu kalau tidak tahu apa yang sedang dirasa seperti anak keduaku. Suka kesulitan mendeskripsikannya. Jadi kalau sedang kesal/marah jadi langsung tegangan tinggi. Tapi anak ini jenis pemikir dan pengamat.
Nah, menghadapinya butuh kesabaran ekstra. Betul-betul harus kita yang pandai memancing, dan lagi sulit sekali dipancing ke luar. Yang ada manyun, diam seribu bahasa, atau teriak-teriak marah.
Maka diamkan saja, anggap ngga da apa-apa. Bikin acara atau kegiatan supaya luluh sendiri.
Minggu, 18 September 2016
Embrio harus tumbuh
Saat aku diam, suara tegas, dan sedikit senyum itu artinya syaraf otakku sedang tegang.
Pikiranku sedang mengembara ke berbagai lorong waktu. Menyingkap memori.
Aku bukannya duduk diam, aku sedang menyuapi bocah sambil menulis. Sementara saat loading, aku mengaitkan hook merangkai yarn menjadi sesuatu yang lebih berbentuk.
Apa yang hendak kubicarakan?
Cita-cita dan sifat.
Cita-cita adalah mimpi yang hendak diwujudkan.
Baru kemarin anak-anakku yang sudah duduk di klas 2 dan 4 SD mengungkapkan lagi. Dan masih sama.
Cita-cita anak pertama adalah desainer. Anak gadisku ini menyukai sesuatu yang atraktif.
Senang diperhatikan diam-diam. Menyukai sesuatu yang aneh-aneh, yang berbeda, yang tidak sederhana. Dan egois tapi tangguh. Ia setipe denganku.
Anak kedua, menyukai hal-hal yang berbau penelitian, suka sekali buku tentang binatang terutama dinosaurus. Penampilannya simpel, tidak suka dikritik akan pilihannya. Cerdas (bernalar) tetapi cengeng. Mudah rapuh. Suka menggambar hewan-hewan yang ditontonnya. Menikmati film-film yang ditonton hingga kadang hafal dialognya.
Banyak bertanya dan sudah memikirkan 'how to' yang bikin aku kuwalahan.
Dan dia ini lebih berempati. Ada sifat ayah padanya. Selera kualitas dan penampilan nomer satu.
Cita-citanya adalah peneliti dinosaurus dan bikin robot yang bisa dialog bisa berubah semacam transformer.
Anak ketiga ini, pemerhati. Ia pandai mencuri hatiku. Ia tahu cara mempermainkan perasaanku. Secara fisik maupun tingkah ia mengundang gemes. Dan idenya buanyak. Masih kecil, 4 tahun. Hehehe.
Dan aku berfikir, seharusnya gambaran cita-cita itu terpampang jelas di layar otak. Sehingga kalaupun tak tahu jalan, selalu berupaya ke sana. It's a destination
Itu akan membawa semangat pengejaran yang tak pernah berhenti.
Dan inilah yang merongrong diriku selama ini. Aku seperti kehilangan kerangka, seperti tidak ada lagi yang harus dikejar. Pengejaranku seperti sudah selesai sehingga perasaan stagnan, pikiran tidak tertata mengusir seluruh bahagia.
Karenanya aku terbangun dari tidur panjang. Menumbuhkan kembali embrio yang ngendon berlama-lama. Merawatnya supaya lahir dengan sempurna. Perlu waktu, konsistensi, dan fojus. So, semestinyalah cita-cita dibangkitkan kembali dan dikejar.
Sudah semestinya sifat-sifat yang dimiliki berpengaruh pada cita-cita yang diangankan.
Itu akan mempertajam passion.
Note: no excuse and focus
Pikiranku sedang mengembara ke berbagai lorong waktu. Menyingkap memori.
Aku bukannya duduk diam, aku sedang menyuapi bocah sambil menulis. Sementara saat loading, aku mengaitkan hook merangkai yarn menjadi sesuatu yang lebih berbentuk.
Apa yang hendak kubicarakan?
Cita-cita dan sifat.
Cita-cita adalah mimpi yang hendak diwujudkan.
Baru kemarin anak-anakku yang sudah duduk di klas 2 dan 4 SD mengungkapkan lagi. Dan masih sama.
Cita-cita anak pertama adalah desainer. Anak gadisku ini menyukai sesuatu yang atraktif.
Senang diperhatikan diam-diam. Menyukai sesuatu yang aneh-aneh, yang berbeda, yang tidak sederhana. Dan egois tapi tangguh. Ia setipe denganku.
Anak kedua, menyukai hal-hal yang berbau penelitian, suka sekali buku tentang binatang terutama dinosaurus. Penampilannya simpel, tidak suka dikritik akan pilihannya. Cerdas (bernalar) tetapi cengeng. Mudah rapuh. Suka menggambar hewan-hewan yang ditontonnya. Menikmati film-film yang ditonton hingga kadang hafal dialognya.
Banyak bertanya dan sudah memikirkan 'how to' yang bikin aku kuwalahan.
Dan dia ini lebih berempati. Ada sifat ayah padanya. Selera kualitas dan penampilan nomer satu.
Cita-citanya adalah peneliti dinosaurus dan bikin robot yang bisa dialog bisa berubah semacam transformer.
Anak ketiga ini, pemerhati. Ia pandai mencuri hatiku. Ia tahu cara mempermainkan perasaanku. Secara fisik maupun tingkah ia mengundang gemes. Dan idenya buanyak. Masih kecil, 4 tahun. Hehehe.
Dan aku berfikir, seharusnya gambaran cita-cita itu terpampang jelas di layar otak. Sehingga kalaupun tak tahu jalan, selalu berupaya ke sana. It's a destination
Itu akan membawa semangat pengejaran yang tak pernah berhenti.
Dan inilah yang merongrong diriku selama ini. Aku seperti kehilangan kerangka, seperti tidak ada lagi yang harus dikejar. Pengejaranku seperti sudah selesai sehingga perasaan stagnan, pikiran tidak tertata mengusir seluruh bahagia.
Karenanya aku terbangun dari tidur panjang. Menumbuhkan kembali embrio yang ngendon berlama-lama. Merawatnya supaya lahir dengan sempurna. Perlu waktu, konsistensi, dan fojus. So, semestinyalah cita-cita dibangkitkan kembali dan dikejar.
Sudah semestinya sifat-sifat yang dimiliki berpengaruh pada cita-cita yang diangankan.
Itu akan mempertajam passion.
Note: no excuse and focus
Kamis, 15 September 2016
Ke luar dari cangkang
Sempat nonton acara Dedy Corbuzier, "Hitam Putih", tentang difabilitas yang ditayangkan pada 15 September 2016. Acara ini mengundang tamu Surya Sahetapy, anak ketiga Dewi Yull-Ray Sahetapy.
Selain itu bintang tamu yang lain adalah Triono, penyandang difabel yang menciptakan aplikasi ojek online bertujuan untuk melayani difabel-difabel yang lain.Namun sementara ini kawasan cakupannya baru sekitaran jogja, rencana ke depan ekspansi ke kota-kota lain terutama yang ada tempat wisatanya. Idenya menarik, berawal dari terpaksa karena butuh.
Ia butuh bekerja, ia butuh kendaraan spesifik, dan ia butuh mobilitas.
Kemudian ia melakukan aksi, memodifikasi motor supaya bisa digunakan oleh difabel yang bertugas sebagai driver. Adapun motor modifikasi ini spesifik untuk masing-masing drivernya. Disesuaikan dengan kebutuhannya.
Sementara, Surya adalah satu dari sekian contoh penyandang difabel yang yang masih belia, yang berhasil memberi kita orang yang secara fisik sempurna tertohok karena dengan keterbatasan fisik ia mampu melakukan hal-hal hebat.
Semasa TK, ia menjalani 5 tahun. Tiga tahun di TK umum, 2 tahun berikutnya sekolah luar biasa untuk terapi bicara.
Ia mampu mendengar bila suara tersebut mempunyai amplitudo sebesar 100 db. Sebesar siara bising mesin bor. Sementara percakapan normal manusia hanya sekitar 60 db. Surya menggunakan alat bantu dengar namun alat yang ditaruh di telinganya itu hanya bertindak sebagai pengeras suara saja. Maka ia merasa lebih nyaman menggunakan bahasa isyarat. Sementara bila berbicara dia merasa berat, berfikir keras dan harus memperhatikan gerak bibir lawan bicara untuk mudah memahami.
Saat nonton film kecenderungan nonton film dari luar negri yang menyediakan subtitle, sementara semisal nonton acara TV indonesia, ia tidak bisa memahami karena tidak mengerti yang dibicarakan.
Seorang Surya adalah pemuda yang patut dibanggakan. Prestasinya hampir bisa menyamai orang sempurna secara fisik. Dia menjadi pemain sepak bola terbaik penyandang difabel dan menjadi wakil pertukaran pelajar ke Amrik dalam acara mempelajari perkembangan difabel di negri tersebut.
Dari dua contoh di atas, kita bisa mendapatkan pelajaran bahwa mereka itu adalah orang-orang yang pandai bersyukur. Mereka bisa mengenal dan memahami diri mereka apa adanya. Mengupayakan kualitas lebih dari keterbatasan fisiknya.
Sejatinya seseorang bisa ke luar dari keterbatasan karena mampu mengeluarkan jiwa dan pikiran dari bungkus. Mereka sanggup berpikir dan bertindak melampaui cangkang keterbatasan. Itulah kekuatan pikir dan jiwa.
Maka, sebaiknya...
Jangan membenci keterbatasan tetapi pikirkanlah bagaimana caranya supaya kita bisa melakukan lebih banyak dan lebih baik.
Bagaimana kita tetap bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan dengan keterbatasan yang kita miliki.
Keterbatasan di sini bisa meluas maknanya tidak semata keterbatasan fisik. Bisa saja keterbatasan materi, keterbatasan koneksi, keterbatasan fasilitas, dan sebagainya. Bisa apa saja.
Mengupayakan cara berpikir kita ke luar dari cangkang.
Kenali, adaptasi, dan akrabi.
Menurut saya, saat kita menerima diri apa adanya, kita akan mengenal siapa sebenarnya kita. Dengan demikian kita akan mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan kita.
Menerima diri apa adanya adalah bentuk dari bersyukur. Bersyukur akan membuka pintu rezeki, permasalahan mudah diselesaikan, hati lebih tenang, dan pikiran lebih jernih.
Jangan menyerah oleh keterbatasan. Pasti ada jalan. Mungkin pepatah ini bisa jadi pedoman, "Tak ada rotan, akarpun jadi."
And if we could do more, so why not?
Selain itu bintang tamu yang lain adalah Triono, penyandang difabel yang menciptakan aplikasi ojek online bertujuan untuk melayani difabel-difabel yang lain.Namun sementara ini kawasan cakupannya baru sekitaran jogja, rencana ke depan ekspansi ke kota-kota lain terutama yang ada tempat wisatanya. Idenya menarik, berawal dari terpaksa karena butuh.
Ia butuh bekerja, ia butuh kendaraan spesifik, dan ia butuh mobilitas.
Kemudian ia melakukan aksi, memodifikasi motor supaya bisa digunakan oleh difabel yang bertugas sebagai driver. Adapun motor modifikasi ini spesifik untuk masing-masing drivernya. Disesuaikan dengan kebutuhannya.
Sementara, Surya adalah satu dari sekian contoh penyandang difabel yang yang masih belia, yang berhasil memberi kita orang yang secara fisik sempurna tertohok karena dengan keterbatasan fisik ia mampu melakukan hal-hal hebat.
Semasa TK, ia menjalani 5 tahun. Tiga tahun di TK umum, 2 tahun berikutnya sekolah luar biasa untuk terapi bicara.
Ia mampu mendengar bila suara tersebut mempunyai amplitudo sebesar 100 db. Sebesar siara bising mesin bor. Sementara percakapan normal manusia hanya sekitar 60 db. Surya menggunakan alat bantu dengar namun alat yang ditaruh di telinganya itu hanya bertindak sebagai pengeras suara saja. Maka ia merasa lebih nyaman menggunakan bahasa isyarat. Sementara bila berbicara dia merasa berat, berfikir keras dan harus memperhatikan gerak bibir lawan bicara untuk mudah memahami.
Saat nonton film kecenderungan nonton film dari luar negri yang menyediakan subtitle, sementara semisal nonton acara TV indonesia, ia tidak bisa memahami karena tidak mengerti yang dibicarakan.
Seorang Surya adalah pemuda yang patut dibanggakan. Prestasinya hampir bisa menyamai orang sempurna secara fisik. Dia menjadi pemain sepak bola terbaik penyandang difabel dan menjadi wakil pertukaran pelajar ke Amrik dalam acara mempelajari perkembangan difabel di negri tersebut.
Dari dua contoh di atas, kita bisa mendapatkan pelajaran bahwa mereka itu adalah orang-orang yang pandai bersyukur. Mereka bisa mengenal dan memahami diri mereka apa adanya. Mengupayakan kualitas lebih dari keterbatasan fisiknya.
Sejatinya seseorang bisa ke luar dari keterbatasan karena mampu mengeluarkan jiwa dan pikiran dari bungkus. Mereka sanggup berpikir dan bertindak melampaui cangkang keterbatasan. Itulah kekuatan pikir dan jiwa.
Maka, sebaiknya...
Jangan membenci keterbatasan tetapi pikirkanlah bagaimana caranya supaya kita bisa melakukan lebih banyak dan lebih baik.
Bagaimana kita tetap bisa memenuhi kebutuhan dan keinginan dengan keterbatasan yang kita miliki.
Keterbatasan di sini bisa meluas maknanya tidak semata keterbatasan fisik. Bisa saja keterbatasan materi, keterbatasan koneksi, keterbatasan fasilitas, dan sebagainya. Bisa apa saja.
Mengupayakan cara berpikir kita ke luar dari cangkang.
Kenali, adaptasi, dan akrabi.
Menurut saya, saat kita menerima diri apa adanya, kita akan mengenal siapa sebenarnya kita. Dengan demikian kita akan mampu memenuhi apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan kita.
Menerima diri apa adanya adalah bentuk dari bersyukur. Bersyukur akan membuka pintu rezeki, permasalahan mudah diselesaikan, hati lebih tenang, dan pikiran lebih jernih.
Jangan menyerah oleh keterbatasan. Pasti ada jalan. Mungkin pepatah ini bisa jadi pedoman, "Tak ada rotan, akarpun jadi."
And if we could do more, so why not?
Senin, 12 September 2016
Anak percaya diri
Anak yang percaya bahwa dirinya mampu maka ia akan punya eagerness,
dan punya perasaan tertantang dalam mengerjakan sesuatu.
Ia punya kesabaran untuk menyelesaikan tugas.
Ya kesabaran dimiliki oleh seorang anak yang yakin pada kemampuan dirinya.
Kepercayan orang tua atau orang dewasa di sekitarnya memberi perasaan nyaman dan aman karena mereka happy.
So., they are enjoying the days in life.
Bila enjoy, maka they will have believe in theirself. And do the duty gladly.
Ke depannya, mereka berkarya dengan dedikasi.
Mereka mampu berkreasi sesuai passionnya.
Maka beri perhatian saat anak berbicara dengan kita.
Beri perhatian akan kebutuhan afeksinya.
Beri kasih sayang yang cukup agar kelak dewasa mereka mampu mengasihi keluarganya.
Perhatian kita adalah penghargaan untuknya. Kepercayaan dirinya.
Ia tumbuh bersama orang dewasa yang membesarkannya.
Maka wajib bagi kita memberinya ruang untuk berekspresi, untuk membangun jati diri.
Dan wajib pula bersabar menghadapi tingkah polah mereka.
Dengarkanlah sebelum kita banyak berbicara.
Dengarkanlah apa maunya
Dengarkanlah apa yang dirasa
Dengan mendengar, kita akan mengenalnya lebih baik.
Kita akan bisa mengarahkannya ke kehidupan positif.
Anak-anak sudah diberi naluri tumbuh, orang tua hanyalah berperan sebagai fasilitator memberi kesempatan seluas-luasnya, membukakan pintu pengetahuan, menunjukkan jalan-jalan kehidupan, dan memimpin mereka untuk meniti jalan.
Membukakan pintu-pintu dunia dan pintu-pintu akherat.
Sabtu, 10 September 2016
Teguran
Aku ditegur dan langsung merasa tidak nyaman, merasa ' I am negative'
Yang menegur mukanya keruh.
Sebenarnya mungkin tidak sekeruh yang kita sangka.
Tangkapan indrawi kita diolah bersama dengan memori yang sudah melekat di dalam otak sehingga menghasilkan respon cepat semacam di atas.
Teguran itu menyentuh alam egosentris seseorang.
Teguran itu menunjukkan ada yang harus diperbaiki.
Teguran itu adalah bagian dari proses pengamatan.
Pengamatan itu adalah proses pembelajaran dan proses penyerapan ilmu.
Tujuan teguran adalah supaya keadaan bisa dikendalikan.
Tetap di bawah kontrol.
Supaya keadaan bisa dibuat menjadi lebih baik
dan kesalahan tidak terulang kembali.
Kesalahan itu ibarat kran bocor,
maka akan selalu mengurangi isi bejana air.
Kran bocor harus diperbaiki agar bejana berisi penuh bahkan melimpah.
Supaya limpahan ini bisa dialirkan dengan mudah ke tempat lain yang lebih rendah.
Jadi, biasakan menegur diri sendiri
Agar terbiasa peka dengan kesalahan diri
Agar mudah menerima teguran orang lain
dengan lapang dada
Karena hidup adalah memberi dan menerima
maka teguran adalah memberi kebaikan di satu pihak
dan menerima perbaikan di pihak lain.
Seperti tranfer uang dalam dunia perbankan agar cash flow-nya balance. Artinya mencapai kondisi ideal.
Yang menegur mukanya keruh.
Sebenarnya mungkin tidak sekeruh yang kita sangka.
Tangkapan indrawi kita diolah bersama dengan memori yang sudah melekat di dalam otak sehingga menghasilkan respon cepat semacam di atas.
Teguran itu menyentuh alam egosentris seseorang.
Teguran itu menunjukkan ada yang harus diperbaiki.
Teguran itu adalah bagian dari proses pengamatan.
Pengamatan itu adalah proses pembelajaran dan proses penyerapan ilmu.
Tujuan teguran adalah supaya keadaan bisa dikendalikan.
Tetap di bawah kontrol.
Supaya keadaan bisa dibuat menjadi lebih baik
dan kesalahan tidak terulang kembali.
Kesalahan itu ibarat kran bocor,
maka akan selalu mengurangi isi bejana air.
Kran bocor harus diperbaiki agar bejana berisi penuh bahkan melimpah.
Supaya limpahan ini bisa dialirkan dengan mudah ke tempat lain yang lebih rendah.
Jadi, biasakan menegur diri sendiri
Agar terbiasa peka dengan kesalahan diri
Agar mudah menerima teguran orang lain
dengan lapang dada
Karena hidup adalah memberi dan menerima
maka teguran adalah memberi kebaikan di satu pihak
dan menerima perbaikan di pihak lain.
Seperti tranfer uang dalam dunia perbankan agar cash flow-nya balance. Artinya mencapai kondisi ideal.
Berangus ingin
Ketika memberangus ingin,
Rasa tak terperikan.
Kelu saat ingin berteriak
Terpaku saat ingin berlari.
Aku ingin bergelora seperti ombak lautan.
Aku ingin menggulung seperti topan ganas.
Aku ingin menggelegar seperti petir yang menakutkan
Rasa yang ada di dalam.
Berlonjakan tak mau diam.
Seperti didihan magma
siap meledak
Menyemburkan prahara yang tak tertahan
Ketika itulah aku harus diam dan tenang
memejamkan mata
mendengarkan saja gejolak jiwa
Memaksa geming seperti adanya
Membiarkan mereka mengalir
menganak sungai,
menyusutkan ruang tampung dalam kondisi wajar
meluruhlah
jiwa yang bergejolak
taatilah
wahai jiwa yang bergelora
Langganan:
Postingan (Atom)
Kucing
Hanya terdengar dengung kipas angin yang menempel di tembok, detak jantung jam dinding, bunyi kemeruyuk di dalam perutku, dan tarikan napask...
-
Sudah seminggu Nara Ratih tidur cepat-cepat. Ia menolak semua ajakan hangout teman-temannya. Mematikan hand phone, dan mengga...
-
Cerita pencabut rumput. Tanaman merambat berbunga kuning itu tiap bulan harua diberaihkan dari rumput-rumput yang terus tumbuh bila tidak...
-
Saat pagi menjelang. Bukalah jendela, hirup udara segarnya, rasakan aliran udara itu, dan bermandilah sinar matahari pagi. Manfaatkan sua...